Berita

Pengusaha Asal Bantul Senang Telur Asinnya Berlabel Halal

Sabtu Legi, 26 Mei 2018 08:59 WIB 290

foto

Puluhan pengusaha kuliner Bantul, Jumat (25/5/2018) kemarin menerima sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY di Kantor Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Bantul. Proses penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Bantul.

Suhartati adalah seorang pengusaha kuliner penerima sertifikat halal. Ia merasa senang, karena olahan telur asin dan pepes telur asin yang ia beri nama “Sumber Rejeki” telah bersertifikat halal. “Sekarang lega, produk makanan saya sudah ada label halal,” kata Suhartati yang membuka usaha di Bondalem, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul itu.

Harus diakui, belum adanya label sertifikat halal di kemasan produknya ini sempat menyulitkannya dalam mengembangkan usaha. Pernah ia mendapat order telur asin dengan jumlah cukup banyak dari sebuah toko modern di DIY namun akhirnya batal. Pihak toko modern tidak berani menjual telur asin milik karena tidak ada sertifikat halal. “Katanya mereka tidak bisa jual lagi kalau belum ada sertifikat halal. Padahal seperti sudah mau dijual ke beberapa cabang mereka di DIY dan Jawa Tengah. Lau saya coba urus sertifikat halal ke MUI. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Sekarang saya sudah bisa lebih mudah menjual telur asin saya ke toko modern ini,” katanya lega. Suhartati sedikit bercerita, jika pengalamannya mengurus sertifikat halal kemarin bukan jadi sesuatu yang sulit. Karena sedari awal, ia tak mengalami kendala soal syarat pemakaian bahan baku dan pengolahannya. Saat tim MUI datang, verifikasi berjalan lancar. Hanya saja, selama empat tahun membuka usahanya itu, memang belum ada sertifikat halal. Sementara itu Kepala Dinas Koperasi UKM dan Industri Bantul, Sulistiyanto mengatakan, kesadaran masyarakat Bantul yang bergerak di bidang kuliner untuk mengurus label halal memang masih minim. Ia bahkan menyebut, dari sekitar 13 ribu pengusahan kuliner di Bantul, baru 10 persen lebih yang sudah memiliki label halal.

Faktanya, banyak pengusaha kuliner yang belum berlabel halal ini adalah pemilik produk non kemasan. Usaha catering atau warung makan misalnya, yang sebenarnya juga tetap harus mengurus label halal. “Sekarang sedang kita dorong untuk semua pengusaha kuliner Bantul punya label halal, tahun ini kita target 85 pengusaha kuliner punya label halal,” katanya. Pengurusan label halal ini menurut Sulistyanto bisa dilakukan melalu mekanisme jalur mandiri. Artinya si pengusaha mengurus sendiri label halal ke MUI. Atau melalui program Pemkab Bantul yang secara rutin menyediakan kuota subsidi penuh maupun subsidi sebagian untuk para pengusaha kuliner yang ingin mengurus label halal.

Upaya Pemkab ini menurut Sulistiyanto didasari atas fakta bahwa label halal yang tertera dalam produk kuliner baik berupa olahan makanan dan minuman memang sangat berpengaruh terhadap pengembangan usaha mereka. “Karena banyak toko modern, dan pembeli yang mengharuskan ada label halal,” kata Sulistiyanto. Oleh sebab itu, keberadaan label halal ini menurut Sulistiyanto sudah menjadi sebuah keharusan jika pengusaha makanan ingin mengembangkan usahanya secara lebih luas. Eksport misalnya, karena banyak negara, terutama negara-negara timur tengah sangat memperhatikan label halal. Juga negara tetangga seperti Malaysia maupun Brunei.

(Sumber : jogja.tribunnews.com)


Bantul Siaga Covid-19

Klik Gambar Untuk Mengetahui Perkembangan Virus Covid-19 di Kabupaten Bantul

Sudah Baikkah Layanan Kami?

Klik Gambar Untuk Memberikan Penilaian

Layanan Aduan

Sosial Media

Pengunjung
  • Pengunjung: 157939
  • Online: 22
  • Hari ini: 137